Tuesday, August 27, 2013

METODE EVALUASI DELPHI DAN MODEL EVALUASI KIRKPATRICK

METODE EVALUASI DELPHI
 

Metode delphi adalah sebuah teknik komunikasi terstruktur, yang pada awalnya dikembangkan sebagai sebuah metode peramalan yang interaktif dan sistematis yang bergantung pada sebuah panel ahli. Para ahli menjawab kuisioner dalam dua atau lebih tahapan. Setelah setiap tahapan, fasilitator memberikan sebuah ringkasan tanpa nama dari prediksi para ahli dari tahapan sebelumnya beserta alas an yang mereka berikan atas prediksi tersebut. Dengan demikian, para ahli diarahkan atau disarankan untuk merevisi jawaban mereka sebelumnya berdasarkan jawaban dari anggota lainnya dalam panel mereka. Hal ini diyakini bahwa selama proses ini rentangan jawaban akan menurun dan kelompok akan mengarah kepada jawaban yang benar. Akhirnya, proses ini berhenti berdasarkan kriteria pemberhentian yang telah ditetapkan sebelumnya dan rata-rata atau nilai tengah dari tahapan terakhir akan menentukan hasil.
 

Delphi berdasar kepada prinsip bahwa prekiranaa atau keputusan dari kelompok terstruktur lebih akurat dari pada kelompok tak terstruktur. Teknik ini bisa juga digunakan untuk pertemuan tatap muka dan disebut mini delphi atau estimate-talk-estimate. Delphi telah banyak digunakan untuk peramalan usaha dan memiliki beberapa keuntungan dibandingkan pendekatan peramalan terstruktur lainnya, prediksi pasar.
 

Tujuan dari teknik Delphi adalah untuk mengembangkan suatu perkiraan konsensus masa depan dengan meminta pendapat para ahli, dan pada saat yang sama menghilangkan masalah sering terjadi yaitu komunikasi tatap muka.
 

Menurut Delbecq, Van de Ven dan Gustafson, teknik Delphi dapat digunakan untuk mencapai tujuan sebagai berikut:
1.Untuk menentukan atau mengembangkan berbagai alternatif program yang mungkin
2.Untuk menjelajahi atau mengekspos asumsi yang mendasari atau informasi yang mengarah ke penilaian yang berbeda
3.Untuk mencari informasi yang dapat menghasilkan konsensus sebagai bagian dari kelompok responden
4.Untuk menghubungkan penilaian informasi pada topik yang mencakup berbagai disiplin
5.Untuk mendidik kelompok responden mengenai aspek beragam dan saling terkait dari topic
 

Prosedur metode Delphi adalah sebagai berikut :
 

1.Mengembangkan pertanyaan Delphi
Ini merupakan kunci proses Delphi. Langkah ini dimulai dengan memformulasikan garis besar pertanyaan oleh pembuatan keputusan. Jika responden tidak mengerti garis besar pertanyaan maka masukan proses adalah sia –sia. Elemen kunci dari langkah ini adalah mengembangkan pertanyaan yang dapat dimengerti oleh responden. Anggota staf harus menginterview pembuat keputusan benar – benar jelas mengenai pertanyaan yang dimaksud dan bagaimana informasi tersebut akan digunakan.
 

2.Memilih dan kontak dengan responden
Partisipan sebaiknya diseleksi dengan dasar ; secara personal responden mengetahui permasalahan, memiliki informasi yang tepat untuk dibagi, tranformasi untuk melengkapi Delphi dan responden merasa bahwa agregasi pendapat panel responden akan termasuk informasi yang mereka nilai dan mereka tidak mengakses dengan cara lain. Seleksi aktual dari responden umumnya menyelesaikan melalui penggunaan proses nominasi.
 

3.Memilih ukuran contoh
Ukuran panel responden bervariasi dengan kelompok yang homogen dengan 10 – 15 partisipan mungkin cukup. Akan tetapi dalam sebuah kasus dimana refrence yang bevariasi diperlukan maka dibutuhkan partisipan yang lebih besar.
 

4.Mengembangkan kuisioner dan test 1
Kuisioner pertama dalam Delphi mengikuti partisipan untuk menulis respon pada garis besar masalah. Sampul surat termasuk tujuan, guna dari hasil, perintah dan batas akhir respon.
 

5.Analisa kuisioner 1
Analisa kuisioner harus dihasilkan dalam ringkasan yang bersisi bagian – bagian yang diidentifikasi dan komentar dibuat dengan jelas dan dapat dimengerti responden terhadap kuisioner 2. Anggota grup kerja mendokumentasikan masing – masing respon pada kartu indeks, memilih kartu kedalam katagori umum, mengembangkan sebuah konsensus pada label untuk masing – masing katagori dan menyiapkan ringkasan bayangan yang berisi katagori – katagori.
 

6.Pengembangan kuisioner dan test 2
Kuisioner kedua dikembangkan menggunakan ringkasan responden dari kuisioner 1. Fokus dari kuisioner ini adalah untuk mengidentifikasikan area yang disetujui dan yang tidak, mendiskusikan dan mengidentifikasi bagian yang diinginkan serta membantu partisipan mengetahui masing – masing posisi dan bergerak menuju pendapat yang akurat, responden diminta untuk memilih pada ringkasan bagian kuisioner 1
 

7.Analisa kuisioner 2
Tugas dari kelompok kerja adalah menghitung jumlah suara masing – masing bagian yang meringkas komentar yang dibuat tentang masing – masing bagian. Tujuan dari tahapan ini adalah untuk menentukan jika informasi lengkap akan membantu untuk penyelesaian masalah atau paling tidak membuktikan untuk digunakan di berbagai cara.
 

8.Mengembangkan kuisioner dan test 3
Kuisioner 3 didesain untuk mendorong masukan proses Delphi
 

9.Analisis kuisioner 3
Analisa tahap ini mengikuti prosedur yang sama pada analisis kuisioner 2
 

10.Menyiapkan laporan akhir
 

Kelebihan Metode Delphi
•Hasil berdasarkan dari para ahli.
•Anonimitas dan isolasi memungkinkan kebebasan yang maksimal dari aspek-aspek negative dari interaksi sosial.
•Opini yang diungkapkan para ahli luas, karena dari pendapat masing-masing ahli.
 

Kekurangan Metode Delphi
•Biaya yang besar untuk mengundang para ahli.
•Hasil berdasarkan anggapan-anggapan (asumsi).
•Tidak semua hasil berjalan sesuai prediksi.
•Memakan waktu yang lama

MODEL EVALUASI KIRKPATRICK
 

Model kirkpatrick dirancang sebagai urutan cara untuk mengevaluasi program pelatihan. Model evaluasi Kirkpatrick merupakan model evaluasi pelatihan yang dikembangkan pertama kali oleh Donald L. Kirkpatrick (1959) dengan menggunakan empat level dalam mengkategorikan hasil-hasil pelatihan. Empat level tersebut adalah level reaksi, pembelajaran, perilaku dan hasil.
 

1.Reaction
Apa yang dirasakan peserta tentang pelatihan tersebut atau apakah peserta menyukai proses pelatihan tersebut? Evaluasi reaksi ini sama halnya dengan mengukur tingkat kepuasan peserta pelatihan. Komponen-komponen yang termasuk dalam level reaksi ini yang merupakan acuan untuk dijadikan ukuran. Berikut indikator-indikator dari komponen-komponen tersebut:
•Instruktur
•Faslisitas pelatihan
•Jadwal pelatihan
•Media pelatihan
•Materi pelatihan
•Konsumsi selama pelatihan
•Pemberian latihan dan tugas
•Studi kasus
•Handouts
 

2.Learning
Apa yang dipelajari oleh peserta, hasilnya adalah peningkatan pengetahuan dan kemampuan serta perubahan tingkah laku. Pada level evaluasi ini untuk mengetahui sejauh mana daya serap peserta program pelatihan pada materi pelatihan yang telah diberikan, dan juga dapat mengetahui dampak dari program pelatihan yang diikuti para peserta dalam hal peningkatan knowledge, skill dan attitude mengenai suatu hal yang dipelajari dalam pelatihan. Pandangan yang sama menurut Kirkpatrick, bahwa evaluasi pembelajaran ini untuk mengetahui peningkatan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang diperoleh dari materi pelatihan. Oleh karena itu diperlukan tes guna utnuk mengetahui kesungguhan apakah para peserta megikuti dan memperhatikan materi pelatihan yang diberikan. Dan biasanya data evaluasi diperoleh dengan membandingkan hasil dari pengukuran sebelum pelatihan atau tes awal (pre-test) dan sesudah pelatihan atau tes akhir (post-test) dari setiap peserta. Pertanyaan-pertanyaan disusun sedemikian rupa sehingga mencakup semua isi materi dari pelatihan.
 

3.Behavior
Perubahan kinerja setelah mengikuti pelatihan atau pengaplikasian apa yang diperoleh di pelatihan ke pekerjaan. Pada level ini, diharapkan setelah mengikuti pelatihan terjadi perubahan tingkah laku peserta (karyawan) dalam melakukan pekerjaan. Dan juga untuk mengetahui apakah pengetahuan, keahlian dan sikap yang baru sebagai dampak dari program pelatihan, benar-benar dimanfaatkan dan diaplikasikan di dalam perilaku kerja sehari-hari dan berpengaruh secara signifikan terhadap peningkatan kinerja/ kompetensi di unit kerjanya masing-masing.
 

4.Result
Hasil akhir yang diperoleh karena mengikuti pelatihan. Hasil akhir tersebut meliputi, peningkatan hasil produksi dan kualitas, penurunan harga, peningkatan penjualan. Tujuan dari pengumpulan informasi pada level ini adalah untuk menguji dampak pelatihan terhadap kelompok kerja atau organisasi secara keseluruhan. Sasaran pelaksanaan program pelatihan adalah hasil yang nyata yang akan disumbangkan kepada perusahaan sebagai pihak yang berkepentingan. Walaupun tidak memberikan hasil yang nyata bagi perusahan dalam jangka pendek, bukan berarti program pelatihan tersebut tidak berhasil. Ada kemungkinan berbagai faktor yang mempengaruhi hal tersebut, dan sesungguhnya hal tersebut dapat dengan segera diketahui penyebabnya, sehingga dapat pula sesegera mungkin diperbaiki.
 

Sumber:
www.wikipedia.org
http://dimasarioarumbinang.blogspot.com/2010/06/metode-delphi.html
http://wildanshauqi.blogspot.com/
http://rujakcingur666.blogspot.com/2012/12/model-kirkpatrick-dan-aplikasinya_4344.html

No comments:

Post a Comment