Saturday, August 31, 2013

Routing

Routing adalah proses pengiriman data maupun informasi dengan meneruskan paket data yang dikirim dari jaringan satu ke jaringan lainnya.

Konsep dasar routing
Bahwa dalam jaringan WAN kita sering mengenal yang namanya TCP/IP (Transmission Control Protocol/ Internet Protocol) sebagai alamat sehingga pengiriman paket data dapat sampai ke alamat yang dituju (host tujuan). TCP/IP membagi tugas masing-masingmulai dari penerimaan paket data sampai pengiriman paket data dalam sistem sehingga jika terjadi permasalahan dalam pengiriman paket data dapat dipecahkan dengan baik. Berdasarkan pengiriman paket data routing dibedakan menjadi routing langsung dan routing tidak langsung.
 

Routing langsung 
merupakan sebuah pengalamatan secara langsung menuju alamat tujuan tanpa melalui host lain. Contoh: sebuah komputer dengan alamat 192.168.1.2 mengirimkan data ke komputer dengan alamat 192.168.1.3
 

Routing tidak langsung 
merupakan sebuah pengalamatan yang harus melalui alamat host lain sebelum menuju alamat hort tujuan. (contoh: komputer dengan alamat 192.168.1.2 mengirim data ke komputer dengan alamat 192.1681.3, akan tetapi sebelum menuju ke komputer dengan alamat 192.168.1.3, data dikirim terlebih dahulu melalui host dengan alamat 192.168.1.5 kemudian dilanjutkan ke alamat host tujuan.

Jenis Konfigurasi Routing
- Minimal Routing merupakan proses routing sederhana dan biasanya hanya pemakaian lokal saja.
- Static Routing, dibangun pada jaringan yang memiliki banyak gateway. jenis ini hanya memungkinkan untuk jaringan kecil dan stabil.
- Dinamic Routing, biasanya digunakan pada jaringan yang memiliki lebih dari satu rute. Dinamic routing memerlukan routing protocol untuk membuat tabel routing yang dapat memakan resource komputer.

 
Static Routing
Sebuah router dengan tabel routing dikonfigurasi secara manual dikenal sebagai router statis. Seorang administrator jaringan, dengan pengetahuan tentang topologi jaringan internet, secara manual membangun dan memperbarui tabel routing, pemrograman semua rute di tabel routing. Static router dapat bekerja dengan baik untuk internetwork kecil tetapi tidak baik untuk skala besar atau berubah secara dinamis internetwork karena administrasi manual mereka. Router statis kesalahan tidak toleran. Seumur hidup dari rute statis dikonfigurasi secara manual adalah tidak terbatas dan, karena itu, router statis tidak masuk akal dan pulih dari mereguk router atau link tumbang. Sebuah contoh yang baik dari router statis adalah multihomed komputer yang menjalankan Windows 2000 (komputer dengan beberapa kartu antarmuka jaringan). Creating a static IP router with Windows 2000 is as simple as installing multiple network interface cards, configuring TCP/IP, and enabling IP routing. Membuat router IP statis dengan Windows 2000 adalah yang sederhana seperti menginstal beberapa kartu antarmuka jaringan, mengkonfigurasi TCP / IP, dan memungkinkan IP routing.

Dynamic Routing
Sebuah router yang dikonfigurasi secara dinamis tabel routing dikenal sebagai router dinamis. Dynamic routing terdiri dari tabel routing yang dibangun dan dipelihara secara otomatis melalui komunikasi yang berkelanjutan antara router. Komunikasi ini difasilitasi oleh sebuah routing protocol, serangkaian periodik atau on-demand routing pesan yang berisi informasi yang dipertukarkan antara router. Kecuali untuk konfigurasi awal mereka, router dinamis memerlukan sedikit pemeliharaan, dan karena itu dapat internetwork skala yang lebih besar. Kesalahan routing dinamis toleran. Dinamis rute belajar dari router lain memiliki hidup yang terbatas. Jika sebuah router atau link turun, router merasakan perubahan dalam topologi jaringan internet melalui berakhirnya masa hidup belajar rute dalam tabel routing. Perubahan ini kemudian dapat disebarkan ke router lain sehingga semua router pada internetwork menyadari topologi internetwork baru.Kemampuan untuk skala dan pulih dari internetwork kesalahan routing dinamis membuat pilihan yang lebih baik untuk menengah, besar, dan sangat besar internetwork. Sebuah contoh yang baik dari sebuah router dinamis komputer dengan Windows 2000 Server dan Routing dan Remote Layanan Akses menjalankan Routing Information Protocol (RIP) dan Open Shortest Path First (OSPF) routing protokol RIP untuk IP dan IPX.

Perbedaan Static Routing dan Dynamic Routing
Pada dasarnya perbedaan antara routing statis dengan routing dinamis adalah cara mengenalkan alamat networknya.

- Routing dinamis pada prinsipnya hanya mengenalkan network yang berhubungan dengan router yang bersangkutan (tanpa mengetahui subnet masknya). Sedangkan Routing Statis harus mengenalkan setiap alamat pada setiap network yang ingin dituju, jadi harus tahu semua alamat network yang ingin dituju. Semakin luas jaringannya, maka table routenya pun semakin banyak dan lebih rumit dibandingkan dengan Routing Dinamis.
- Routing Dinamis sangat cocok untuk topologi jaringan yang lingkupnya besar (terhubung ke banyak network). Sedangkan routing statis cocok untuk topologi jaringan yang simple.

Kelebihan Routing Statis
- Beban kerja router terbilang lebih ringan dibandingkan dengan routing dinamis. Karena pada saat konfigurasi router hanya mengupdate sekali saja ip table yang ada.
- Pengiriman paket data lebih cepat karena jalur atau rute sudah di ketahui terlebih dahulu.
- Deteksi dan isolasi kesalahan pada topologi jaringan lebih mudah

Kekurangan Routing Statis 

Harus tahu semua alamat network yang akan dituju beserta subnet mask dan next hoopnya (gateway nya)

Kelebihan Routing Dinamis
- Hanya mengenalkan alamat network yang terhubung langsung dengan routernya.
- Tidak perlu mengetahui semua alamat network yang ada.
- Bila terjadi penambahan suatu network baru tidak perlu semua router mengkonfigurasi. Hanya router-router yang berkaitan.

Kekurangan Routing Dinamis
- Beban kerja router lebih berat karena selalu memperbarui ip table pada tiap waktu tertentu.
- Kecepatan pengenalan network terbilang lama karena router membroadcast ke semua router hingga ada yang cocok.
- Setelah konfigurasi harus menunggu beberapa saat agar setiap router mendapat semua Alamat IP yang ada.
- Susah melacak permasalahan pada suatu topologi jaringan lingkup besar

sumber:

- http://tutorial-mj.blogspot.com/2012/11/pengertian-routing.html
- http://chaonkajah.blogspot.com/2010/01/routing-dan-jenis jenisnya.html
- http://rizkymoel.pun.bz/kelebihan-kekurangan-routing-statis-dan.xhtml

Subnetting IP

Subnetting adalah sebuah teknik yang mengizinkan para administrator jaringan untuk memanfaatkan 32 bit IP address yang tersedia dengan lebih efisien. Teknik subnetting membuat skala jaringan lebih luas dan tidak dibatas oleh kelas-kelas IP (IP Classes) A, B, dan C yang sudah diatur. Dengan subnetting, anda bisa membuat network dengan batasan host yang lebih realistis sesuai kebutuhan.

Subnetting menyediakan cara yang lebih fleksibel untuk menentukan bagian mana dari sebuah 32 bit IP adddress yang mewakili netword ID dan bagian mana yang mewakili host ID.

Dengan kelas-kelas IP address standar, hanya 3 kemungkinan network ID yang tersedia; 8 bit untuk kelas A, 16 bit untuk kelas B, dan 24 bit untuk kelas C. Subnetting mengizinkan anda memilih angka bit acak (arbitrary number) untuk digunakan sebagai network ID.

Dua alasan utama melakukan subnetting:

  1. Mengalokasikan IP address yang terbatas supaya lebih efisien. Jika internet terbatas oleh alamat-alamat di kelas A, B, dan C, tiap network akan memliki 254, 65.000, atau 16 juta IP address untuk host devicenya. Walaupun terdapat banyak network dengan jumlah host lebih dari 254, namun hanya sedikit network (kalau tidak mau dibilang ada) yang memiliki host sebanyak 65.000 atau 16 juta. Dan network yang memiliki lebih dari 254 device akan membutuhkan alokasi kelas B dan mungkin akan menghamburkan percuma sekitar 10 ribuan IP address.
  2. Alasan kedua adalah, walaupun sebuah organisasi memiliki ribuan host device, mengoperasikan semua device tersebut di dalam network ID yang sama akan memperlambat network. Cara TCP/IP bekerja mengatur agar semua komputer dengan network ID yang sama harus berada di physical network yang sama juga. Physical network memiliki domain broadcast yang sama, yang berarti sebuah medium network harus membawa semua traffic untuk network. Karena alasan kinerja, network biasanya disegmentasikan ke dalam domain broadcast yang lebih kecil – bahkan lebih kecil – dari Class C address.
Contoh kasus
Suatu perusahaan mendapatkan IP adress dari suatu ISP 160.100.0.0/16, perusahan tersebut mempunyai 30 departemen secara keseluruhan, dan ingin semua departemen dapat akses ke internet. Tentukan network tiap departemen ?
 

Solusi
- Tentukan berada dikelas mana ip tersebut ? B
- Berapa jumlah network yang dibutuhkan ? Dengan rumus 2n > network yang dibutuhkan
25 > 30

- Ubah menjadi biner
network-portion host-portion
10100000 01100100 00000000 00000000
11111111 11111111 00000000 00000000

- Ambil bit host-portion sesuai dengan kebutuhkan network, sehingga
network-portion host-portion
10100000 01100100 _ _ _ _ _ 000 00000000
11111111 11111111 1 1 1 1 1 000 00000000
perhatikan oktet ketiga
_ _ _ _ _ 000
1 1 1 1 1 000

Cara 1
Dengan mengkombinasikan bit
00001 000 = 8
00010 000 = 16
00011 000 = 24
00100 000 = 32
00101 000 = 40
00110 000 = 48
……………
11111 000 = 248
 

Cara 2
Mengurangi subnet mask dgn bilangan 256
11111 000 = 248
256 – 248 = 8 maka subnetwork adalah kelipatan 8
No Depertemen Subnetwork (255.255.248.0)
1 Pertama 160.100.8.0
2 Kedua 160.100.16.0
3 Ketiga 160.100.24.0
4 Keempat 160.100.32.0
5 Kelima 160.100.40.0
6 Keenam 160.100.48.0
7 Ketujuh 160.100.56.0
.. ………….
30 Ketigapuluh 160.100.248.0
Maka
Network Broadcast Range-Hoat
160.100.8.0 160.100.15.255 160.100.8.1 – 160.100.15.254
160.100.16.0 160.100.23.255 160.100.16.1 – 160.100.23.254
160.100.24.0 160.100.31.255 160.100.24.1 – 160.100.31.254
160.100.32.0 160.100.39.255 160.100.32.1 – 160.100.39.254
160.100.40.0 160.100.47.255 160.100.40.1 – 160.100.47.254
160.100.48.0 160.100.55.255 160.100.48.1 – 160.100.55.254
160.100.56.0 160.100.63.255 160.100.56.1 – 160.100.63.254
160.100.64.0 160.100.71.255 160.100.64.1 – 160.100.71.254
160.100.72.0 160.100.79.255 160.100.72.1 – 160.100.79.254
…….. ………. ………….
160.100.248.0 160.100.255.255 160.100.248.1 – 160.100.255.254


sumber: 
http://sujieinformatika.blogspot.com/2009/04/pengertian-subnetting-dan.html 
http://nandaeswete.blogspot.com/2010/01/pengertian-ip-address-subnetting-dan.html 


Wednesday, August 28, 2013

CIO dan Information Technology Masterplan



Saat ini, penggunaan Teknologi Informasi di perusahaan semakin meningkat tidak hanya untuk proses operasional sehari-hari, tetapi sudah pada proses membantu pengambilan keputusan. Bahkan, pada beberapa sektor industri, ketergantungan terhadap Teknologi Informasi sudah sangat besar seperti pada sektor perbankan dan keuangan. Namun demikian, perusahaan juga tidak bisa secara gegabah mengeluarkan investasi untuk implementasi Teknologi Informasi, karena tentu saja harus memperhitungkan cost dan benefit yang dihasilkannya. Oleh karena itu, perusahaan membutuhkan semacam blue print yang sering disebut sebagai IT Master Plan sebagai dasar perusahaan dalam melakukan implementasi Teknologi Informasi.IT Master Plan pada intinya berisi rencana strategis perusahaan dalam mengimplementasikan dan membangun sistem informasi di Perusahaan. Di dalamnya berisi pedoman kebutuhan sistem informasi seperti apa yang diperlukan perusahaan.
Kebutuhan akan sistem informasi dalam suatu perusahaan menjadikan sistem informasi menjadi sumber daya penting. Peningkatan ini tidak hanya untuk proses operasional sehari-hari, tetapi sudah pada proses membantu pengambilan keputusan. Informasi yang dihasilkan menjadikan keputusan menjadi semakin jelas.
IT Master Plan  adalah suatu perencanaan jangka panjang dalam pengembangan sistem informasi di perusahaan , yang dengan baik bisa menterjemahkan keinginan baik dari manajemen (System Owner), pengguna (System User) maupun perubahan-perubahan yang terjadi di dalam maupun di luar organisasi. Dengan perkembangan Teknologi Informasi yang sangat cepat (short life-cycle), betapa sulitnya menyesuaikan terhadap kebutuhan perusahaan tanpa adanya Master Plan.
Perusahaan tidak bisa secara gegabah mengeluarkan investasi untuk implementasi Teknologi Informasi, karena tentu saja harus memperhitungkan cost dan benefit yang dihasilkannya. Oleh karena itu, perusahaan membutuhkan semacam blue print yang sering disebut sebagai IT Master Plan sebagai dasar perusahaan dalam melakukan implementasi Teknologi Informasi. IT Master Plan pada intinya berisi rencana strategis perusahaan dalam mengimplementasikan dan membangun sistem informasi di Perusahaan. Di dalamnya berisi pedoman kebutuhan sistem informasi seperti apa yang diperlukan perusahaan. Yang perlu menjadi catatan penting adalah bahwa IT Master Plan merupakan turunan dari Business Plan perusahaan. Teknologi informasi diimplementasikan sebagai tool untuk membantu perusahaan dalam mencapai visi dan misinya. Karena itu, tanpa ada visi dan misi yang jelas dari perusahaan, IT Master Plan juga tidak bisa dibangun.

Banyak manfaat yang bisa diambil dalam pemanfaatan Master Plan. Diantaranya adalah:
1. IT Master Plan akan menjadi dasar bagi perencanaan perusahaan dalam investasi dan implementasi teknologi informasi.
2. Mengurangi beberapa resiko yang timbul dari implentasi teknologi informasi.
3. IT Master Plan bisa menjadi alat kontrol dan parameter yang efektif untuk mereview performa dan kesuksesan implementasi Teknologi Informasi pada suatu perusahaan.

Dalam pembuatan IT Master Plan harus mengacu pada Business Plan perusahaan, maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah memahami visi-misi perusahaan, target dan tujuan yang akan dicapai perusahaan dalam kurun waktu tertentu. Dari situ kita bisa melakukan breakdown secara lebih detil kebutuhan informasi bisnis seperti apa yang dibutuhkan. Dari berbagai kebutuhan informasi bisnis inilah yang kemudian diterjemahkan menjadi kebutuhan sistem dan teknologi seperti apa yang harus diimplementasikan perusahaan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Kebutuhan sistem dan teknologi informasi ini pada saat implementasi diterjemahkan secara teknis menjadi kebutuhan aplikasi perangkat lunak (software) dan perangkat keras (hardware) . Dalam proses ini juga menjabarkan bagaimana perusahaan mengelola berbagai sumber daya yang ada mulai dari aspek organisasi, personel, maupun perangkat lunak (software) dan perangkat keras (hardware) yang akan diimplementasikan.

IT Master Plan yang baik berisi:
1. Penjabaran strategi organisasi kedalam tujuan-tujuan operasional yang yang harus dicapai organisasi.
2. Rumusan ukuran-ukuran dan target-target kinerja organisasi sebagai indicator keberhasilan penerapan TI organisasi
3. Arsitektur bisnis berupa gambaran konsep operasi proses-proses bisnis utama organisasi yang didukung oleh kemampuan TI organisasi
4. Arsitektur system informasi berupa portfolio informasi serta system aplikasi yang dibutuhkan untuk mendukung administrasi dan pengambilan keputusan dalam proses-proses bisnis organisasi.
5. Arsitektur teknologi berupa gambaran konfigurasi infrastruktur TI untuk menjalankan system-sistem aplikasi yang dibutuhkan
6. Struktur dan kelengkapan organisasi pengelolaan TI untuk menjamin kualitas layanan atau kinerja TI bagi penggunanya dan mengelola resiko pemanfaatan TI organisasi
7. Portfolio kegiatan atau proyek-proye pengembangan TI beserta strategi pelaksanaannya, alokasi anggarannya, penjadwalannya dan indicator keberhasilannya dari perspektif bisnis.

Ciri-ciri Rencana strategi TI yang efektif :
1. Relevant, ada kaitan dengan kebutuhhan para pemangku kepentingan
2. Efisien, efisien dengan ruang lingkup yang terfokus pada tema tertentu
3. Traceable, dengan ukuran kinerja yang berpangkal dari kebutuhan dan tujuan bisnis
4. Mendokumentasikan semua asumsi dan alas an justifikasi yang digunakan
5. Dapat digunakan sebagai ladasan tata kelola (pengambilan keputusan dan pengawasan)
6. Dikomunikasikan secara luas
7. Memiliki dampak langsug pada pencapaian tujuan unit-unti organisasi beserta personilnya
8. Disusun dan diperbaharui sebagai proses yang berkesinambungan, bukan proyek.
9. Merupakan dokumen hidup dengan peninjauan ulang dan penyesusaian secara periodic
10. Memiliki alur cerita (benang merah) yang jelas
11. Cukup ambisius (tetapi realistis) dalam penetapan target.

Lima langkah utama dalam merumuskan IT Masterplan:
1. Penjabaran strategi bisnis organisasi untuk diturunkan menjadi rumusan strategi TI organisasi.
2. Pendataan dan evaluasi (assessment) arsitektur TI organisasi saat ini. Ini meliputi portofolio layanan TI yang ada, konfigurasi perangkat lunak dank eras yang dimiliki, kelengkapan organisasi pengelola TI, dsb.
3. Perancangan arsitektur TI organisasi kedepan (target) dalam rangka menunjang strategi bisnis organisasi.
4. Analisis kesenjangan (gap) antara arsitektur TI target dengan arsitektur TI saat ini. Hasil analisis ini adalah portofolio inisiatif kegiatan (program kerja) atau proyek pengembangan TI yang akan dilaksanakan dalam jangka waktu yang direncanakan.
5. Perumusan strategi pelaksanaan (implementation) proyek-proyek TI dalam portofolio. Ini mencakup pentahapan dan prioritas berdasarkan pertimbagan nilai kemanfaatan, resiko, dan ketersediaan sumber daya pelaksanaan terutama anggaran dan sdm.

Peran CIO dalam IT Masterplan
CIO berperan sebagai pemandu proses penyusunan IT masterplan. Dengan kewenangan yang dimilikinya, seorang CIO dapat memastikan komitmen staf, baik dalam divisi TI maupun diuar TI, untuk mendukung proses penyusunan IT Masterplan. Dengan wawasan dualistic yang dimilikinya, yaitu dari sisi bisnis dan sisi TI, seorang CIO memiliki kapasitas untuk menjembatani komunikasi antara bisnis dan TI yang dituntut dalam penyusunan IT Masterplan.

IPv6

Internet Protocol versi 6 (IPv6) adalah revisi terakhir dari Internet Protocol (IP), protokol komunikasi yang menyediakan identifikasi dan sistem lokasi untuk komputer pada jaringan dan rute lalu lintas di internet. IPv6 dikembangkan oleh Internet Engineering Task Force (IETF) untuk menangani masalah kelelahan alamat pada IPv4. Tujuan utama diciptakan IPv6 karena keterbatasan ruang alamat di IPv4 yang hanya terdiri dari 32 bit.

Kelebihan IPv6
Kelebihan IPv6 dibandingkan dengan IPv4 antara lain:
- Ruang alamat IPv6 yang lebih besar yaitu 128 bit.
- Pengalamatan multicast, yaitu pengiriman pesan ke beberapa alamat dalam satu group.
- Stateless address autoconfiguration (SLAAC), IPv6 dapat membuat alamat sendiri tanpa bantuan DHCPv6.
- Keamanan lebih bagus dengan adanya default sekuriti IPSec.
- Pengiriman paket yang lebih sederhana dan efisien.
- Dukungan mobilitas dengan adanya Mobile IPv6.

Perbandingan IPv6 dengan IPv4
Fitur
IPv4: Jumlah alamat menggunakan 32 bit sehingga jumlah alamat unik yang didukung terbatas 4.294.967.296 atau di atas 4 miliar alamat IP saja. NAT mampu untuk sekadar memperlambat habisnya jumlah alamat IPv4, namun pada dasarnya IPv4 hanya menggunakan 32 bit sehingga tidak dapat mengimbangi laju pertumbuhan internet dunia.
IPv6: Menggunakan 128 bit untuk mendukung 3.4 x 10^38 alamat IP yang unik. Jumlah yang masif ini lebih dari cukup untuk menyelesaikan masalah keterbatasan jumlah alamat pada IPv4 secara permanen.

Routing
IPv4: Performa routing menurun seiring dengan membesarnya ukuran tabel routing. Penyebabnya pemeriksaan header MTU di setiap router dan hop switch.
IPv6: Dengan proses routing yang jauh lebih efisien dari pendahulunya, IPv6 memiliki kemampuan untuk mengelola tabel routing yang besar.
 
Mobilitas
IPv4: Dukungan terhadap mobilitas yang terbatas oleh kemampuan roaming saat beralih dari satu jaringan ke jaringan lain.
IPv6: Memenuhi kebutuhan mobilitas tinggi melalui roaming dari satu jaringan ke jaringan lain dengan tetap terjaganya kelangsungan sambungan. Fitur ini mendukung perkembangan aplikasi-aplikasi.
 
Keamanan
IPv4: Meski umum digunakan dalam mengamankan jaringan IPv4, header IPsec merupakan fitur tambahan pilihan pada standar IPv4.
IPv6: IPsec dikembangkan sejalan dengan IPv6. Header IPsec menjadi fitur wajib dalam standar implementasi IPv6.
 
Ukuran header
IPv4: Ukuran header dasar 20 oktet ditambah ukuran header options yang dapat bervariasi.
IPv6: Ukuran header tetap 40 oktet. Sejumlah header pada IPv4 seperti Identification, Flags, Fragment offset, Header Checksum dan Padding telah dimodifikasi.
 
Header checksum
IPv4: Terdapat header checksum yang diperiksa oleh setiap switch (perangkat lapis ke 3), sehingga menambah delay.
IPv6: Proses checksum tidak dilakukan di tingkat header, melainkan secara end-to-end. Header IPsec telah menjamin keamanan yang memadai
 
Fragmentasi
IPv4: Dilakukan di setiap hop yang melambatkan performa router. Proses menjadi lebih lama lagi apabila ukuran paket data melampaui Maximum Transmission Unit (MTU) paket dipecah-pecah sebelum disatukan kembali di tempat tujuan.
IPv6: Hanya dilakukan oleh host yang mengirimkan paket data. Di samping itu, terdapat fitur MTU discovery yang menentukan fragmentasi yang lebih tepat menyesuaikan dengan nilai MTU terkecil yang terdapat dalam sebuah jaringan dari ujung ke ujung.
 
Configuration
IPv4: Ketika sebuah host terhubung ke sebuah jaringan, konfigurasi dilakukan secara manual.
IPv6: Memiliki fitur stateless auto configuration dimana ketika sebuah host terhubung ke sebuah jaringan, konfigurasi dilakukan secara otomatis.
 
Kualitas Layanan
IPv4: Memakai mekanisme best effort untuk tanpa membedakan kebutuhan.
IPv6: Memakai mekanisme best level of effort yang memastikan kualitas layanan. Header traffic class menentukan prioritas pengiriman paket data berdasarkan kebutuhan akan kecepatan tinggi atau tingkat latency tinggi....

Sumber:
-          www.wikipedia.org

Tuesday, August 27, 2013

METODE EVALUASI DELPHI DAN MODEL EVALUASI KIRKPATRICK

METODE EVALUASI DELPHI
 

Metode delphi adalah sebuah teknik komunikasi terstruktur, yang pada awalnya dikembangkan sebagai sebuah metode peramalan yang interaktif dan sistematis yang bergantung pada sebuah panel ahli. Para ahli menjawab kuisioner dalam dua atau lebih tahapan. Setelah setiap tahapan, fasilitator memberikan sebuah ringkasan tanpa nama dari prediksi para ahli dari tahapan sebelumnya beserta alas an yang mereka berikan atas prediksi tersebut. Dengan demikian, para ahli diarahkan atau disarankan untuk merevisi jawaban mereka sebelumnya berdasarkan jawaban dari anggota lainnya dalam panel mereka. Hal ini diyakini bahwa selama proses ini rentangan jawaban akan menurun dan kelompok akan mengarah kepada jawaban yang benar. Akhirnya, proses ini berhenti berdasarkan kriteria pemberhentian yang telah ditetapkan sebelumnya dan rata-rata atau nilai tengah dari tahapan terakhir akan menentukan hasil.
 

Delphi berdasar kepada prinsip bahwa prekiranaa atau keputusan dari kelompok terstruktur lebih akurat dari pada kelompok tak terstruktur. Teknik ini bisa juga digunakan untuk pertemuan tatap muka dan disebut mini delphi atau estimate-talk-estimate. Delphi telah banyak digunakan untuk peramalan usaha dan memiliki beberapa keuntungan dibandingkan pendekatan peramalan terstruktur lainnya, prediksi pasar.
 

Tujuan dari teknik Delphi adalah untuk mengembangkan suatu perkiraan konsensus masa depan dengan meminta pendapat para ahli, dan pada saat yang sama menghilangkan masalah sering terjadi yaitu komunikasi tatap muka.
 

Menurut Delbecq, Van de Ven dan Gustafson, teknik Delphi dapat digunakan untuk mencapai tujuan sebagai berikut:
1.Untuk menentukan atau mengembangkan berbagai alternatif program yang mungkin
2.Untuk menjelajahi atau mengekspos asumsi yang mendasari atau informasi yang mengarah ke penilaian yang berbeda
3.Untuk mencari informasi yang dapat menghasilkan konsensus sebagai bagian dari kelompok responden
4.Untuk menghubungkan penilaian informasi pada topik yang mencakup berbagai disiplin
5.Untuk mendidik kelompok responden mengenai aspek beragam dan saling terkait dari topic
 

Prosedur metode Delphi adalah sebagai berikut :
 

1.Mengembangkan pertanyaan Delphi
Ini merupakan kunci proses Delphi. Langkah ini dimulai dengan memformulasikan garis besar pertanyaan oleh pembuatan keputusan. Jika responden tidak mengerti garis besar pertanyaan maka masukan proses adalah sia –sia. Elemen kunci dari langkah ini adalah mengembangkan pertanyaan yang dapat dimengerti oleh responden. Anggota staf harus menginterview pembuat keputusan benar – benar jelas mengenai pertanyaan yang dimaksud dan bagaimana informasi tersebut akan digunakan.
 

2.Memilih dan kontak dengan responden
Partisipan sebaiknya diseleksi dengan dasar ; secara personal responden mengetahui permasalahan, memiliki informasi yang tepat untuk dibagi, tranformasi untuk melengkapi Delphi dan responden merasa bahwa agregasi pendapat panel responden akan termasuk informasi yang mereka nilai dan mereka tidak mengakses dengan cara lain. Seleksi aktual dari responden umumnya menyelesaikan melalui penggunaan proses nominasi.
 

3.Memilih ukuran contoh
Ukuran panel responden bervariasi dengan kelompok yang homogen dengan 10 – 15 partisipan mungkin cukup. Akan tetapi dalam sebuah kasus dimana refrence yang bevariasi diperlukan maka dibutuhkan partisipan yang lebih besar.
 

4.Mengembangkan kuisioner dan test 1
Kuisioner pertama dalam Delphi mengikuti partisipan untuk menulis respon pada garis besar masalah. Sampul surat termasuk tujuan, guna dari hasil, perintah dan batas akhir respon.
 

5.Analisa kuisioner 1
Analisa kuisioner harus dihasilkan dalam ringkasan yang bersisi bagian – bagian yang diidentifikasi dan komentar dibuat dengan jelas dan dapat dimengerti responden terhadap kuisioner 2. Anggota grup kerja mendokumentasikan masing – masing respon pada kartu indeks, memilih kartu kedalam katagori umum, mengembangkan sebuah konsensus pada label untuk masing – masing katagori dan menyiapkan ringkasan bayangan yang berisi katagori – katagori.
 

6.Pengembangan kuisioner dan test 2
Kuisioner kedua dikembangkan menggunakan ringkasan responden dari kuisioner 1. Fokus dari kuisioner ini adalah untuk mengidentifikasikan area yang disetujui dan yang tidak, mendiskusikan dan mengidentifikasi bagian yang diinginkan serta membantu partisipan mengetahui masing – masing posisi dan bergerak menuju pendapat yang akurat, responden diminta untuk memilih pada ringkasan bagian kuisioner 1
 

7.Analisa kuisioner 2
Tugas dari kelompok kerja adalah menghitung jumlah suara masing – masing bagian yang meringkas komentar yang dibuat tentang masing – masing bagian. Tujuan dari tahapan ini adalah untuk menentukan jika informasi lengkap akan membantu untuk penyelesaian masalah atau paling tidak membuktikan untuk digunakan di berbagai cara.
 

8.Mengembangkan kuisioner dan test 3
Kuisioner 3 didesain untuk mendorong masukan proses Delphi
 

9.Analisis kuisioner 3
Analisa tahap ini mengikuti prosedur yang sama pada analisis kuisioner 2
 

10.Menyiapkan laporan akhir
 

Kelebihan Metode Delphi
•Hasil berdasarkan dari para ahli.
•Anonimitas dan isolasi memungkinkan kebebasan yang maksimal dari aspek-aspek negative dari interaksi sosial.
•Opini yang diungkapkan para ahli luas, karena dari pendapat masing-masing ahli.
 

Kekurangan Metode Delphi
•Biaya yang besar untuk mengundang para ahli.
•Hasil berdasarkan anggapan-anggapan (asumsi).
•Tidak semua hasil berjalan sesuai prediksi.
•Memakan waktu yang lama

MODEL EVALUASI KIRKPATRICK
 

Model kirkpatrick dirancang sebagai urutan cara untuk mengevaluasi program pelatihan. Model evaluasi Kirkpatrick merupakan model evaluasi pelatihan yang dikembangkan pertama kali oleh Donald L. Kirkpatrick (1959) dengan menggunakan empat level dalam mengkategorikan hasil-hasil pelatihan. Empat level tersebut adalah level reaksi, pembelajaran, perilaku dan hasil.
 

1.Reaction
Apa yang dirasakan peserta tentang pelatihan tersebut atau apakah peserta menyukai proses pelatihan tersebut? Evaluasi reaksi ini sama halnya dengan mengukur tingkat kepuasan peserta pelatihan. Komponen-komponen yang termasuk dalam level reaksi ini yang merupakan acuan untuk dijadikan ukuran. Berikut indikator-indikator dari komponen-komponen tersebut:
•Instruktur
•Faslisitas pelatihan
•Jadwal pelatihan
•Media pelatihan
•Materi pelatihan
•Konsumsi selama pelatihan
•Pemberian latihan dan tugas
•Studi kasus
•Handouts
 

2.Learning
Apa yang dipelajari oleh peserta, hasilnya adalah peningkatan pengetahuan dan kemampuan serta perubahan tingkah laku. Pada level evaluasi ini untuk mengetahui sejauh mana daya serap peserta program pelatihan pada materi pelatihan yang telah diberikan, dan juga dapat mengetahui dampak dari program pelatihan yang diikuti para peserta dalam hal peningkatan knowledge, skill dan attitude mengenai suatu hal yang dipelajari dalam pelatihan. Pandangan yang sama menurut Kirkpatrick, bahwa evaluasi pembelajaran ini untuk mengetahui peningkatan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang diperoleh dari materi pelatihan. Oleh karena itu diperlukan tes guna utnuk mengetahui kesungguhan apakah para peserta megikuti dan memperhatikan materi pelatihan yang diberikan. Dan biasanya data evaluasi diperoleh dengan membandingkan hasil dari pengukuran sebelum pelatihan atau tes awal (pre-test) dan sesudah pelatihan atau tes akhir (post-test) dari setiap peserta. Pertanyaan-pertanyaan disusun sedemikian rupa sehingga mencakup semua isi materi dari pelatihan.
 

3.Behavior
Perubahan kinerja setelah mengikuti pelatihan atau pengaplikasian apa yang diperoleh di pelatihan ke pekerjaan. Pada level ini, diharapkan setelah mengikuti pelatihan terjadi perubahan tingkah laku peserta (karyawan) dalam melakukan pekerjaan. Dan juga untuk mengetahui apakah pengetahuan, keahlian dan sikap yang baru sebagai dampak dari program pelatihan, benar-benar dimanfaatkan dan diaplikasikan di dalam perilaku kerja sehari-hari dan berpengaruh secara signifikan terhadap peningkatan kinerja/ kompetensi di unit kerjanya masing-masing.
 

4.Result
Hasil akhir yang diperoleh karena mengikuti pelatihan. Hasil akhir tersebut meliputi, peningkatan hasil produksi dan kualitas, penurunan harga, peningkatan penjualan. Tujuan dari pengumpulan informasi pada level ini adalah untuk menguji dampak pelatihan terhadap kelompok kerja atau organisasi secara keseluruhan. Sasaran pelaksanaan program pelatihan adalah hasil yang nyata yang akan disumbangkan kepada perusahaan sebagai pihak yang berkepentingan. Walaupun tidak memberikan hasil yang nyata bagi perusahan dalam jangka pendek, bukan berarti program pelatihan tersebut tidak berhasil. Ada kemungkinan berbagai faktor yang mempengaruhi hal tersebut, dan sesungguhnya hal tersebut dapat dengan segera diketahui penyebabnya, sehingga dapat pula sesegera mungkin diperbaiki.
 

Sumber:
www.wikipedia.org
http://dimasarioarumbinang.blogspot.com/2010/06/metode-delphi.html
http://wildanshauqi.blogspot.com/
http://rujakcingur666.blogspot.com/2012/12/model-kirkpatrick-dan-aplikasinya_4344.html

Monday, August 26, 2013

SWITCH LAYER 2 DAN 3 BESERTA SPESIFIKASI

1. Switch Layer 2
contoh: HP 2510-24 Switch (J9019B)
Spesifikasi
Ports
24 RJ-45 autosensing 10/100 ports(IEEE 802.3 Type 10BASE-T, IEEE 802.3u Type 100BASE-TX)
Media Type: Auto-MDIX, Duplex: half or full
2 dual-personality ports, each port can be used as either an RJ-45 10/100/1000 port or an open mini-GBIC slot (for use with mini-GBIC transceivers)

Memory and processor
Processor : MIPS 32 @ 264 MHz, 8 MB flash, packet buffer size: 384 KB, 64 MB SDRAM

Latency
100 Mb Latency: < 4.9 µs (64-byte packets)
1000 Mb Latency: < 2.6 µs (64-byte packets)

Throughput
up to 6.5 million pps (64-byte packets)

Management features
HP PCM+
HP PCM
command-line interface
Web browser
out-of-band management

Switching capacity
8.8 Gbps

Power and Operating requirements
Power consumption
20 W (maximum)

Input voltage
100-127/200-240 VAC

Operating temperature range
0 to 45°C

Operating humidity range
15 to 95% @ 104°F (40°C) (noncondensing)

Heat dissipation
68 BTU/hr (71.74 kJ/hr)

Dimension and weight
Minimum dimensions (W x D x H)
23.62 x 44.25 x 4.39 cm

Weight
2.22 kg (Fully loaded)

Quality of Service (QoS)
IEEE 802.1p prioritization: delivers data to devices based on the priority and type of traffic

Connectivity
10/100 and 10/100/1000 connectivity: provides customers with the choice of selecting the network connectivity speed that best meets their needs, with a consistent user experience
Gigabit uplinks: E2510-24 and E2510-48 switches: the E2510-24 switch has two dual-personality ports for either 10/100/1000 or mini-GBIC connectivity; the E2510-48 switch has four Gigabit Ethernet ports, which can all be used concurrently with two 10/100/1000 ports and two open mini-GBIC slots. E2510G-24 and E2510G-48 switches: four dual-personality ports for 10/100/1000 or SFP ports for optional fiber connectivity such as Gigabit-SX, -LX, and -LH, or 100-FX.
HP Auto-MDIX: automatically adjusts for straight-through or crossover cables on all 10/100 and 10/100/1000 copper ports

Resiliency and high availability
IEEE 802.1s Multiple Spanning Tree: provides high link availability in multiple VLAN environments by allowing multiple spanning trees; provides legacy support for IEEE 802.1d and IEEE 802.1w
IEEE 802.3ad Link Aggregation Control Protocol (LACP) and HP trunking: - E2510-24 switch supports up to two 10/100 trunks each with four links/ports plus one Gigabit Ethernet trunk. - E2510-48 switch supports up to 24 trunks with eight links/ports per trunk. - E2510-24G & E2510-48G switches support up to 24 trunks with eight links/ports per trunk.

Manageability
IEEE 802.1AB Link Layer Discovery Protocol (LLDP): provides automated device discovery protocol for easy mapping by network management applications
RMON: provides advanced monitoring and reporting capabilities for statistics, history, alarms, and events
Full-featured console: provides complete control of the switch with a familiar command-line interface (CLI)
Web interface: allows configuration of the switch from any Web browser on the network
Single IP Address Management: provides single IP address management for a virtual stack of up to 16 switches

2. Switch Layer 3
contoh: HP 1910-24G-PoE (365W) Switch (JE007A)
Spesifikasi
Ports
24 RJ-45 auto-negotiating 10/100/1000 PoE ports(IEEE 802.3 Type 10BASE-T, IEEE 802.3u Type 100BASE-TX, IEEE 802.3ab Type 1000BASE-T, IEEE 802.3af PoE)
4 SFP 1000 Mbps ports
Supports a maximum of 24 autosensing 10/100/1000 ports plus 4 1000BASE-X SFP ports, or a combination

Memory and processor
Module : ARM @ 333 MHz, 128 MB flash, packet buffer size: 512 KB, 128 MB RAM

Latency
100 Mb Latency: < 5 µs
1000 Mb Latency: < 5 µs

Throughput
up to 41.7 million pps

Routing/switching capacity
56 Gbps

Management features
IMC - Intelligent Management Center
limited command-line interface
Web browser
SNMP Manager
IEEE 802.3 Ethernet MIB

PoE capability
365 W

Power and operating requirements
Power consumption
523 W (maximum)

Input voltage
100-240 VAC

Operating temperature range
0 to 45°C

Operating humidity range
10 to 90% (noncondensing)

Dimensions and weight
Minimum dimensions (W x D x H)
42.01 x 44.2 x 4.32 cm

Weight
3.08 kg

Quality of Service (QoS)
Broadcast control: allows limitation of broadcast traffic rate to cut down on unwanted network broadcast traffic
Rate limiting: sets per-port ingress enforced maximums and per-port, per-queue guaranteed minimums
Traffic prioritization: Provide time senstive packets priority based on DSCP or 802.1p classification. Packets will be mapped to four hardware queues for optimum throughput.

Management
Simple Web management: intuitive Web GUI (http/https) allows for easy management of device by even nontechnical users
Single IP management: enables management of up to 32 HP 1910 devices using a single Web interface; simplifies management of multiple devices
Secure Web GUI: provides a secure, easy-to-use graphical interface for configuring the module via HTTPS
SNMPv1, v2c, and v3: devices can be discovered and monitored from an SNMP management station
Complete session logging: provides detailed information for problem identification and resolution

Connectivity
Auto-MDI/MDIX: automatically adjusts for straight-through or crossover cables on all 10/100/1000 ports
Non-shared SFP ports: four true SFP mini-GBIC ports provide optional fiber connectivity such as Gigabit-SX and -LX; also supports SFP 1G RJ-45 copper connections
IEEE 802.3X flow control: provides a flow throttling mechanism propagated through the network to prevent packet loss at a congested node
IEEE 802.3af Power over Ethernet (PoE) ready: PWR models can provide up to 15.4 W per port to power standards-compliant IP phones, wireless LAN access points, Web cameras, and more
Packet storm protection: protects against broadcast, multicast, or unicast storms with user-defined thresholds

Performance
Half-/Full-duplex auto-negotiating capability on every port: doubles the throughput of every port
Selectable queue configurations: allow you to increase performance by selecting the number of queues and associated memory buffering that best meet the requirements of your network applications
IGMP snooping: multicast filtering improves network performance, instead of flooding traffic to all ports
Fiber uplink: provides greater distance connectivity using Gigabit fiber uplinks

sumber: www8.hp.com

INFORMATION, DECISION SUPPORT AND SPECIAL-PURPOSE SYSTEM

Sub Pokok Bahasan
1.Decision making and problem solving
2.Management information system
3.Decision support system
4.The group decision support system
5.Hybrid system and special-purpose system

1. Decision Making dan Problem Solving
Decision making atau pengambilan keputusan dapat dianggap sebagai proses kognitif yang dihasilkan dalam pemilihan suatu tindakan di antara beberapa alternatif scenario. Decision making atau merupakan sebuah proses yang melalui tiga tahapan yaitu intelligence, design dan choice.Sedangkan problem solving atau pemecahan masalah merupakan tingkatan selanjutnya dari pengambilan keputusan dengan penambahan tahap implementation dan monitoring.

Tahapan dalam decision making dan problem solving:
- Intelligence
Tahap mengidentifikasi dan mengartikan masalah, mencari informasi dan peluang penyelesaian masalah.
- Design
Tahap pengembangan alternative solusi dan kemungkinan dampak yang akan ditimbulkan.
- Choice
Tahap pemilihan salah satu alternative solusi menjadi sebuah keputusan.
- Implementation
Tahap penerapan dari solusi yang telah dipilih
- Monitoring
Tahap pengevalusian dari solusi yang telah diterapkan.

Pendekatan problem solving
1.Reactive problem solving
Pendekatan pemecahan masalah dengan cara menunggu ada masalah yang muncul baru dipecahkan.
2.Proactive problem soving
Pada pendekatan ini pengambil keuputusan atau pemecah masalah mencari kemungkinan masalah yang akan timbul dan menyelesaikannya sebelum menjadi serius.
3.Optimization approaches
Mencari solusi terbaik untuk mencapai kemungkinan laba terbesar dengan efisiensi terbaik.
4.Heuristic approaches
Menempatkan beberapa solusi yang bagus tapi bukan terbaik untuk diterapkan bergantian atau bergiliran sesuai keadaan

Tipe keputusan
a.Programmed decisions
Keputusan terencana dibuat dengan menggunakan aturan, prosedur atau metode kuantitatif. Contoh keputusan terencana adalah pembelian kembali inventori yang telah mencapai jumlah tertentu pada sebuah toko, yang dilakukan otomatis oleh system informasi pada toko tersebut. Keputusan terencana biasanya digunakan untuk menghadapi masalah terstruktur.
b.Nonprogrammed decisions
Keputusan tak terencana digunakan untuk memecahakan suatu masalah yang tak biasa, yang tak bisa dilakukan oleh aturan, prosedur atau metode kuantitatif. Contohnya adalah untuk penerimaan karyawan baru pada toko datas tidak dapat dilakukan oleh system informasi yang ada pada toko tersebut.

2. Management Information System
MIS atau Sistem Informasi Manajemen sering digunakan untuk mendukung keputusan terencana untuk menyelesaikan structured problems. Input MIS adalah database dan outputnya adalah collection of reports. Bebrapa jenis reports adalah scheduled reports, demand reports dan exception reports.
Sistem Informasi Manajemen sering didesain untuk memenuhi kebutuhan spesifik dalam sebuah organisasi. Tujuan utama dari SIM adalah untuk membantu seseorang atau organisasi mencapai tujuan mereka dengan menyediakan informasi dan laporan untuk membuat keputusan yang lebih baik.
MIS pada setiap divisi berbeda karena kebutuhan data dan informasi yang berbeda dan keputusan yang diambil juga berbeda. Contoh Sistem Informasi Manajemen adalah SIM, SIA dan SIP. Enterprise Resource Planning System atau ERP menggabungkan semua database dari divisi-divisi tersebut dan menjadikannya satu sehingga hanya terdapat satu system terintegrasi yang dapat digunakan oleh seluruh divisi dalam satu perusahaan sesuai kebutuhan mereka masing2.
Keuntungan ERP:
- Meningkatkan akses ke data seluruh organisasi dengan tingkat redundansi yang lebih rendah
- Menghilangkan system terpisah yang telah lama
- Proses kerja yang lebih efisien
- Menyederhanakan update dan pemeliharaan system
- Meningkatkan komunikasi antar divisi
- Kinerja perusahaan yang lebih baik
Kelemahan ERP:
- Membutuhkan waktu dan biaya lebih
- Learning curve and employees’ resistance to change
- Ketergantungan pada satu vendor
- Resiko

3. Decision Support System
Decision Support System atau DSS adalah sebuah sistem informasi yang digunakan untuk membantu membuat keputusan untuk masalah spesifik/tertentu. Berbeda dengan SIM yang digunakan untuk menyelesaikan structured problems melalui database DSS lebih difokuskan untuk menyelesaikan semisctructured atau unstructured problems.
Karakteristik DSS
- Menangani /mempergunakan data dari jumlah kecil sampai jumlah besar
- Mengambil dan mengolah data dari berbagai sumber
- Dapat menghasilkan laporan yang fleksibel
- Menjalankan analisis dan perbandingan yang rumit dan canggih dengan menggunakan paket software canggih
- Mendukung pendekatan optimization dan heuristic
- Dapat melakukan analisis what if dan goal seeking
  # What-if analysisis the process of making hypothetical changes to problem data and observing the impact on the results
  # Goal-seeking analysisis the process of determining what problem data is required for a given result
- Dapat melakukan simulasi atau percobaan

4. Group Decision Support System
Group Decision Support System atau GDSS disebut juga system kerja kolaborasi yang terkomputerisasi terdiri dari hardware, software, manusia, database dan prosedur yang dibutuhkan untuk menyediakan bantuan dalam group decision-making settings, sebuah proses yang disebut juga  computer supported cooperative work.
Karakteristik GDSS melebihi karakteristik DSS:
- Fleksibilitas
- Mendukung input dari pihak tak dikenal
- Penurunan kebiasaan buruk kelompok
- Peningkatan kebiasaan positif kelompok
GDSS Software disebut Groupware

5. Hybrid system and Special Purpose System
Hybrid system berisikan banyak tipe sistem informasi yang diakses melalui sebuah interface pusat. Hybrid system membuat organisasi dapat mempersingkat dan menyederhanakan system informasi mereka. Interface yang dipakai untuk mengakses hybrid system biasanya disebut portal perusahaan. Portal biasanya dibuat dalam bentuk halaman web dan menggunakan internet dan intranet yang terhubung dengan server.
Knowledge Management System membantu sebuah organisasi menangkap, menyimpan dan mendistribusikan pengetahuan untuk digunakan dan digunakan ulang oleh organisasi dan kadang oleh partner dan pelanggan.
Geographical Information System memiliki kemampuan untuk menyimpan, memanipulasi dan menampilkan geografi atau informasi special, termasuk peta dan lokasi atau wilayah dari seluruh dunia.